18 Desember 2017
Beri Kuliah Umum, Mentan Minta Mahasiswa STPP Menjadi Enterpreneur
Home Link Arsip Berita Headline News Beri Kuliah Umum, Mentan Minta Mahasiswa STPP Menjadi Enterpreneur
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • green color
  • blue color

Beri Kuliah Umum, Mentan Minta Mahasiswa STPP Menjadi Enterpreneur

Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan lulusan Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP) se-Indonesia yakni STPP Bogor, Medan, Magelang, Gowa, Malang dan Manokwari harus menjadi penyuluh sekaligus pelaku wirausaha atau enterpreneur pertanian. Ini penting agar nantinya lulusan STPP tidak lagi berpikir hanya menjadi penyuluh berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). "Lulusan STPP adalah generasi muda pertanian yang memiliki potensi besar untuk memajukan pertanian. Jadi, selain menjadi penyuluh, harus bisa juga menjadi enterpreneur muda," demikian tegas Amran saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru dan dosen STPP seluruh Indonesia di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Kamis (30/11/2017).

Amran menjelaskan pentingnya generasi muda pertanian menjadi enterpreneur yakni sektor pertanian menjadi menarik dan menghasilkan beragam produk pertanian bernilai ekonomis tinggi yang memiliki daya saing di pasar internasional. Sehingga ekspor pangan Indonesia makin meningkat. "Generasi muda menjadi enterpreneur juga dapat mengubah pengetahuan petani dan terus berinovasi melahirkan inovasi teknologi atau terobosan memajukan pertanian. Ini sangat sejalan untuk mensukseskan kedaulatan pangan, sehingga Indonesia menjadi lumbung dunia tahun 2045," jelasnya. "Karena generasi muda yang dicetak di STPP harus siap mengambil alih tongkat estafet untuk bangkitkan pertanian sekaligus mensejahterakan petani," imbuh Amran. Tak hanya itu, setiap mahasiswa STPP agar fokus untuk ahli pada satu bidang atau komoditas tertentu. Misalnya fokus pada ahli jagung, ahli meneliti padi organik, ahli khusus hidroponik, pascapanen dan olahan dan lainnya.

“Caranya, mahasiswa harus digembleng fokus belajar 15 jam sehari mempelajari sesuai minatnya dan 5 jam pelajaran umum, sehingga 20 jam dalam sehari untuk belajar dan praktek,” terang Amran. Selanjutnya setiap mahasiswa harus diberi target dan apabila tidak, mahasiswa tersebut disarankan untuk mengundurkan diri. “Jadi jika mahasiswa tidak sanggup capai target, ya undur diri sehingga tersisa yang betul betul berprestasi dan siap terjun di dunia pertanian,” ujarn Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Momon Rusmono mengatakan kuliah umum dimaksudkan sebagai pembekalan bagi para mahasiswa baru STPP tahun akademik 2017/2018 agar memiliki wawasan pembangunan di bidang pertanian dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani menuju Indonesia sebagai lumbung pangan dunia tahun 2045. Lebih lanjut Momon menyebutkan upaya menumbuhkan minat generasi muda yakni dengan mengubah paradigma bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang menarik dan menjanjikan. Kemudian, menanamkan kebutuhan akan kebutuhan pangan nasional. "Selain itu, generasi muda harus disiapkan menjadi pelaku usaha dan penentu kebijakan di bidang pertanian," sebutnya.

Untuk melakukan regenerasi petani, BPPSDMP melakukan upaya transformasi pendidikan. Di antaranya, pertama, penyiapan naskah akademik alih bentuk STPP menjadi politeknik. Kedua, pembukaan 10 program studi baru. Ketiga, penajaman dan penyelarasan kurikulum pendidikan tinggi vokasi pertanian untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing. "Kemudian, melalui program penumbuhan wirausaha muda pertanian. Program ini untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat, keterampilan dan jiwa kewirausahaan generasi muda di sektor pertanian," pungkas Momon. (Source : https://www.facebook.com/kementanRI/posts/2004557583161248)

 

Add comment


Security code
Refresh