24 Agustus 2017
AEC, Tantangan Baru Perdagangan Pertanian
Home
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • green color
  • blue color

AEC, Tantangan Baru Perdagangan Pertanian



Tanpa terasa tinggal sekitar 2,5 tahun lagi Indonesia akan memasuki Asean Economic Community (AEC). Perdagangan bebas negara-negara Asia Tenggara itu akan dimulai 1 Januari 2016 akan menjadi tantangan baru perdagangan produk pertanian. Perdagangan bebas tersebut bisa menjadi peluang, sebaliknya juga menjadi ancaman.

Seperti diketahui dalam kerjasama Asean ada tiga pilar yang akan dicapai Negara-negara Asean. Pertama, Asean Political-Security Community (APSC). Kedua, Asean Economic Community (AEC). Ketiga, Asean Social and Cultural Community (ASCC).

Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan saat Workshop ‘Kesiapan Sektor Pertanian Menghadapi AEC 2015’ di Bandung, Kamis (18/4) menilai, dilihat dari tiga pilar tersebut, persoalan politik dan keamanan, serta sosial dan budaya, Indonesia terbilang cukup siap. Namun masalah ekonomi, Indonesia masih menguatirkan.

Indonesia punya pengalaman dalam kerjasama perdagangan bebas. Ketika Pemerintah Indonesia meneken kontrak kerjasama dengan Pemerintah China dalam CAFTA (China Asean Free Trade Area), ternyata bangsa Indonesia tidak siap dengan maraknya produk China yang masuk ke Indonesia.

“Banyak dari kita terkaget-kaget ketika perdagangan bebas Asean-China dimulai. Jika tidak siap dengan AEC, kita akan rugi besar karena dampaknya akan berlangsung instan,” tegasnya. Bahkan Indonesia bisa menjadi negara besar yang kehilangan pasar, karena dimanfaatkan negara-negara lain. “The Biggest in The Asean, but The Losser.”

Dengan waktu yang tersisa 2,5 tahun, Indonesia masih mempunyai kesempatan mempersiapkan diri menghadapi perdagangan bebas Asean. Karena itu pemerintah akan membentuk tim yang akan merumuskan dan menganalisa kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman AEC terhadap produk pertanian. “Kami juga akan membuat paket sosialisasi sederhana kepada pelaku usaha, khususnya petani,” katanya.

Rusman menilai, persoalan utama yang perlu dipersiapkan bukan hanya pada tingkat on farm (petani), tapi yang terpenting adalah agribisnisnya. Sebab pasca panen pertanian menjadi sangat penting dalam persaingan dengan produk-produk luar negeri.